Di titik yang oleh warga Gelondong disebut sebagai cikal bakal dusun mereka, berdiri sebuah payung tua, menandai tempat yang dikenal sebagai petilasan Mbah Ranu. Ke situlah warga menyerahkan sesaji setiap kali ada kenduri, sebagai bentuk penghormatan kepada sosok yang dipercaya menjadi asal-muasal dusun ini.
Tapi siapa sebenarnya Mbah Ranu? Pambudi Sulistyo, yang leluhurnya sendiri kebetulan bernama serupa (Mbah Ranurjo, dimakamkan di Desa Bunder), punya penjelasan yang menariknya jauh ke belakang, ke masa ketika candi-candi Hindu masih berdiri di kawasan ini. "Ranu", katanya, adalah kata serapan berbau Hindu yang berarti mata air, telaga, sumber air. Nama itu bukan tanpa alasan: tempat yang sekarang jadi petilasan itu dulu benar-benar diapit oleh dua aliran sungai, satu kecil dan satu lebih besar.
Sungai kecil itu kini nyaris hilang, terputus sejak Merapi meletus tahun 1994 mengubah lanskap kawasan ini; yang tersisa hanya saluran irigasi kecil menuju sawah. Namun jejak masa lampau yang lebih tua justru tersembul di dekat situ: sepasang lingga dan yoni, simbol Hindu yang melambangkan kesatuan laki-laki dan perempuan, ditemukan di kawasan ini dan kini terdaftar sebagai cagar budaya di bawah pengawasan BPCB (Balai Pelestarian Cagar Budaya).
Di lokasi yang sama pula, dulu tumbuh sebatang pohon serut besar yang dipercaya "berpenghuni". Mendiang Sudiono, salah satu sesepuh dusun yang biasa memimpin ritual kenduren, pernah bercerita kepada Pak Pambudi Sulistyo tentang perjumpaannya dengan sosok yang tingginya diperkirakan tiga kali tinggi manusia dewasa. Penunggu itu, menurut kepercayaan warga, harus selalu diberi bagian dalam setiap upacara, biasanya berupa ceker ayam yang diletakkan khusus di titik itu. Dulu, ritual ini dilakukan dengan permohonan dan doa yang panjang. Sekarang, kata Pak Pambudi Sulistyo, tinggal sekadar meletakkan sesaji, tradisi yang perlahan menipis seiring waktu, meski penghormatan kepada Mbah Ranu sendiri belum benar-benar pudar.
