SLEMAN - Keluarga adalah sekolah pertama bagi anak. Prinsip inilah
yang dibawa oleh Kelompok Kuliah Kerja Nyata Mandiri (KKNM) 30544 Universitas
Negeri Yogyakarta (UNY) saat menggelar sosialisasi edukatif bertajuk
"Peran Orang Tua dalam Perkembangan Bahasa Anak" di RT 04, Dusun
Glondong, Padukuhan Kardangan. Kegiatan ini dirancang khusus untuk membumikan
ilmu psikolinguistik kepada para orang tua agar lebih awas terhadap tumbuh
kembang bahasa anak di masa emasnya.
Membumikan Teori Psikolinguistik ke Ruang Keluarga
Membawa materi yang berakar pada teori psikolinguistik seperti teori Behavioristik, Nativistik, dan Konstruktivisme tentu menjadi tantangan tersendiri. Agar tidak terkesan kaku dan terlalu akademis, kelompok KKNM UNY mengemasnya dalam bahasa yang sangat sederhana, dekat dengan keseharian ibu-ibu, dan disampaikan melalui forum diskusi santai.
Untuk mempermudah pemahaman, Kelompok KKNM membagikan leaflet ringkasan materi dan memberikan contoh-contoh interaksi praktis. Orang tua diajak melakukan simulasi sederhana, seperti:
Membangun interaksi komunikasi yang sehat dengan anak di rumah seperti menggunakan metode storytelling saat melakukan kegiatan sehari-hari.
Memanfaatkan buku bergambar atau poster edukasi untuk memperkaya kosa kata.
Tantangan Screen Time dan Ancaman Speech Delay
Dalam sosialisasi tersebut, isu seputar speech delay (keterlambatan bicara) dan pemberian gawai berlebih pada anak menjadi sorotan utama. Momen paling menarik terjadi pada sesi diskusi ketika para orang tua mulai bertanya mengenai dampak gawai terhadap pemerolehan bahasa anak.
Ibu-ibu secara terbuka mengungkapkan bahwa gawai kerap menjadi "jalan pintas" yang ampuh agar anak bisa lebih tenang di rumah. Merespons hal tersebut, diskusi berlangsung interaktif dan menyepakati satu pemahaman baru, meski pemberian gawai sulit dihindari di era sekarang, kontrol orang tua terhadap batas waktu menatap la yar mutlak dilakukan agar terhindar dari dampak buruk keterlambatan bicara.
Keluarga Sebagai Pendidik Bahasa Pertama
Melalui sosialisasi ini, tim KKNM UNY berharap ada perubahan pola asuh yang lebih aktif di rumah, di mana orang tua menjadi lebih bijak mengatur penggunaan gawai dan lebih sering memberikan stimulasi verbal.
Rohmalia Widyaning Rengganis, perwakilan tim KKNM UNY yang menjadi pemateri dalam kegiatan tersebut, menegaskan bahwa peran keluarga jauh lebih krusial dibandingkan lingkungan sekolah pada tahap awal perkembangan anak.
"Keluarga lah yang memperkenalkan anak pada bahasanya, bahkan sejak dalam kandungan. Keluarga yang berperan menstimulasi anak pertama kali untuk berinteraksi dan berkomunikasi, sehingga meskipun pendidikan secara formal baru diperoleh ketika mulai bersekolah, keluarga lah yang mengajarkan bahasa mereka pertama kali," pungkasnya.
