Banyak warga Gelondong sendiri percaya bahwa nama dusun mereka berasal dari kisah sederhana: dulu, saat Gunung Merapi meletus berabad-abad silam, bebatuan besar menggelundung turun dan berhenti di wilayah ini. Cerita itu terdengar masuk akal, apalagi tak jauh dari sana ada daerah bernama Polowatu, yang berarti "banyak batu". Tapi menurut Pak Pambudi Sulistyo, tokoh masyarakat Gelondong Rt04 Padukuhan Kardangan, cerita itu cuma tebakan yang telanjur dipercaya turun-temurun oleh masyarakat setempat.
Versi yang beliau yakini datang dari kisah yang dituturkan Mbah beliau, sesepuh Dusun Bunder yang juga menjadi guru dan tokoh penyebar agama Katolik di kawasan itu. Karena pendidikan ala Belanda, ia terbiasa mencatat apa yang orang lain hanya sampaikan dari mulut ke mulut. "Bulu Bekti Gelondong Pengarem-arem," begitu istilah yang diwariskannya. Itu nama sebuah tradisi: cara rakyat bersyukur dan menyerahkan bekti (persembahan hasil bumi) kepada raja mereka di Keraton Yogyakarta. Bentuknya sesuai apa yang tersedia, seperti padi, ketela, dan salah satu makanan khas daerah ini, opor bebek atau entok.
Titik tempat warga berkumpul menyerahkan upeti itu (biasanya di jalur utama yang mudah dijangkau dari beberapa dusun sekaligus) lama-lama disebut orang sebagai "gelondong". Nama itu menempel, lalu menjadi nama dusun, bahkan nama desa. Ternyata pola ini bukan kebetulan tunggal. Di seluruh DIY, Pambudi memperkirakan ada lebih dari 50 tempat lain yang juga menyandang nama Gelondong, seperti di Bantul, Melati, dan Ngemplak. Semuanya berakar dari tradisi bekti yang sama kepada Sultan.
Tradisi ini, kata Pak Pambudi, sebenarnya masih hidup dalam bentuk lain hingga sekarang. Setiap kali ada peringatan Jumenengan Ngarso Dalem, seluruh kelurahan di Yogyakarta kembali menghantarkan hasil bumi ke Keraton, dan Sultan membagikannya kembali kepada rakyat lewat para bupati. Makna dari bulu bekti yang sesungguhnya, katanya, bukan sekadar upeti, melainkan wujud kesetiaan timbal balik antara rakyat dan pemimpinnya.
